Piyu Padi Menang Lelang Mercedes-Benz C250 Ava Motif Batik
12:12 AM
Saat diwawancarai Piyu Padi yang mengenakan baju kemeja batik lengan panjang itu mengungkapkan: "BAGI saya sebagai penggemar Mercy versi batik merupakan sesuatu yang sangat langka. Mobil ini memiliki sertifikat resmi dari Mercedes-Benz Indonesia terkait corak batik-nya. Mungkin di STNK-nya nanti, warnanya akan tertera sebagai batik".
Acara lelang ini memang bagian dari program 'Mercedes-Benz Tribute to Indonesia', PT Mercedes-Benz Indonesia (MBI) bekerjasama dengan Pemerintah DKI Jakarta, memberikan apresiasi pada Batik sebagai salah satu aset nasional melalui sebuah karya batik yang dilukis pada sebuah kendaraan Mercedes-Benz C 250 CGI Avantgarde.
Mengapa Wayang, Batik, dan Keris Disebut Warisan Budaya Tak Benda?
3:05 PMJAKARTA, KOMPAS.com--United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) telah meresmikan wayang, keris, dan batik sebagai warisan budaya tak benda Indonesia. Peresmian tersebut ditandai dengan serah-terima sertifikat UNESCO kepada pemerintah, Jumat (5/2/2010).
Kata tak benda atau intangibel terasa janggal jika diasosiasikan dengan wayang, keris, dan batik yang jelas-jelas terlihat wujudnya sebagai benda padat. Bahkan, Batik di Indonesia, identik dengan benda pakai seperti baju batik, atau kemeja.
Mengapa kata Tak Benda melekat pada ketiga warisan budaya itu? Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik mengatakan, yang diakui UNESCO sebagai warisan budaya Indonesia bukanlah wujud wayang, keris dan batik sebagai sebuah benda. Namun, dikatakan Jero, cerita-cerita, nilai-nilai filosofi dan sisi humanis yang terkandung dalam wayang, keris, dan batik itulah yang diakui sebagai sebuah warisan budaya yang patut dilestarikan.
"Lihat wayang ini, Hanoman, ada juga Arjuna, ada cerita yang luar biasa di pewayangan. Itu yang dimaksud intangible," ujarnya saat menghadiri acara serah-terima sertifikat UNESCO terhadap wayang, keris, dan batik sebagai warisan budaya di kantor Kementrian Kordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Jakarta, Jumat.
Sama halnya dengan wayang, keris dan batik juga memiliki cerita dibalik pembuatannya. Pembuatan keris dan batik membutuhkan ketekunan tinggi dengan nilai seni budaya tinggi yang dilandasi nilai-nilai spritual masyarakat yang tinggi pula. Untuk membuat keris misalnya, seorang Empu keris biasa melakukan ritual-ritual doa sebelum pembuatan. Ditambah lagi, dalam masyarakat Jawa, keris dipercaya memiliki kekuatan magis berisi roh-roh nenek moyang.
Beruntunglah Indonesia, memiliki tiga warisan budaya tak benda yang diakui dunia itu. Selanjutnya, masyarakat diimbau untuk bersama-sama menjaga pengakuan dunia terhadap budaya kita. Karena, jika tidak, seperti yang dikatakan Menteri Kordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Agung Laksono, dalam acara yang sama, ketiga warisan budaya itu bisa dicabut sertifikasinya. Jadi, masih ingin wayang, keris, dan batik Indonesia diakui sebagai warisan budaya kita? jaga, dan cintailah mereka dari sekarang.
Batik Indonesia vs Batik China
3:01 PMDi Pekalongan misalnya, pada Pemantauan Media Indonesia di Pekalongan akhir bulan Januari 2010 lalu, para perajin dan pedagang produk tekstil Pekalongan, seperti batik (bahan baju batik/ kain batik), sarung palekat, jins, resah akibat menurunnya secara dratis pendapatan mereka. Ini terjadi tidak hanya dipicu masuknya produk tekstil dari luar, seperti Cina, India, Pakistan, tetapi juga akibat dari cuaca yang memburuk yaitu hujan. Di pasar grosir produk tekstil, seperti Sentono, Gramer, Wiradesa, dan Banjarsari, juga terlihat lengang sejak sepekan ini. Akibatnya, omzet penjualan juga menurun dratis hingga mencapai 200 persen dari kondisi normal. Demikian pula di sentra perajin batik dan sarung pelekat, seperti Kauman, Medono, Bendan, Pesindon, Kedungwuni, Pekajangan, juga tak terlihat lagi ratusan lembar kain batik yang biasanya dijemur di halaman rumah atau tanah lapang. "Omzet kami merosot dratis. Jika sebelumnya pada kondisi normal mampu menjual hingga 120 kodi, sekarang ini paling 30 kodi," kata Fatimah, 35, seorang pedagang produk tekstil di pasar Grosir Sentono, Kota Pekalongan.
Sementara di Jogjakarta, Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) DIY Jadin Jamaludin menyebutkan, "Sekitar 90 persen industri yang ada di Yogyakarta adalah UKM, dan sektor tersebut sangat rentan terhadap persaingan bebas apabila tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah. Apalagi sekarang ini, nilai ekspor DIY juga turun sekitar 20 persen". Menurut dia, industri yang sudah mapan seperti industri besar memang tidak akan mengalami tekanan kuat akibat kebijakan ACFTA yang mulai diberlakukan awal tahun, tetapi tekanan akan lebih banyak dialami oleh industri kecil yang menyerap sekitar 900.000 pekerja tersebut. "Bisa-bisa, pelaku UKM yang tidak dapat bertahan justru akan berbalik untuk menjadi pedagang yang memasarkan barang-barang produksi China karena memang harganya lebih murah," katanya.
Ia mencontohkan, pangsa pasar yang dinikmati oleh industri dalam negeri khususnya tekstil adalah 22 persen, sedangkan sisanya adalah produk impor. "Jika pemerintah tidak dapat berbuat apa-apa, pangsa pasar tersebut bisa-bisa semakin turun ditambah daya beli masyarakat yang saat ini kurang, bahkan bisa turun tajam," katanya. Keunikan dari produk Yogyakarta, menurut Jadin, tidak menjamin bahwa negara lain tidak akan menirunya karena saat ini China telah "membajak" desainer-desainer dari Indonesia untuk mendesain produk bernuansa Indonesia, misalnya batik. "Memang tidak sepenuhnya sama dengan batik buatan Yogyakarta misalnya, tetapi produk yang dihasilkan sudah sangat menyerupai batik dengan harga yang murah. Masyarakat menengah ke bawah tentu memilihnya," katanya.
Nah, bagaimana dengan Anda? Selamatkan Batik Indonesia dengan lebih jeli membeli produk-produk Batik Indonesia? Ato memilih Batik China dengan harga yang lebih murah?




