republika.co.id, YOGYAKARTA--Pengakuan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) terhadap batik sebagai warisan budaya dunia ternyata berpengaruh signifikan terhadap penjualan batik di Indonesia khususnya di Yogyakarta.
Berdasarkan data Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Yogyakarta, peningkatan penjualan batik di Yogyakarta pasca pengkuan UNESCO mencapai 30 persen. Ketua Dekranasda Kota Yogyakarta, Dyah Suminar, mengatakan bahwa pasca pengakuan tersebut,batik semakin diminati oleh banyak kalangan.
“Sekarang ini pasar batik sudah mulai ramai. Tidak hanya masyarakat usia tua yang memakai batik, tetapi juga usia anak dan remaja,” katanya disela-sela pameran batik di Griya UKM Yogyakarta, Jumat (4/12).
Menurutnya, kerajinan batik di Yogyakarta sudah mulai berkembang secara positif. Jumlah pengrajin batik yang mencapai 272 unit sudah mampu mapan dan bisa berproduksi batik secara terus-menerus.
Pengrajin batik di Yogyakarta juga terus berkembang. Tidak hanya kain batik, tetapi juga muncul kerajinan lain seperti sandal batik, sepatu batik, lukisan batik.
“Pengrajin batik kini mendapatkan momentum untuk bisa berkembang pesat setelah mendapat pengakuan sebagai warisan dunia. Produk batik Yogyakarta sudah tersebar di seluruh nusantara, bahkan ke luar negeri,” tambahnya.
Walikota Yogyakarta, Herry Zudianto, menambahkan, sebagai daerah penghasil batik maka industri batik harus terseu dikembangkan secara kreatif. Jangan sampai batik terkesan monoton dan tidak bisa dinikmati oleh semua kalangan.
“Batik di era sekarang harus dikembangkan untuk lebih gaul, agar masyarakat usia anak hingga orang tua bisa menikmatinya untuk dipakai dalam aktivitas sehari-hari,” jelasnya.
Menurutnya, saat ini momentum yang sangat tepat bagi pengrajin batik untuk mengasah dan meningkatkan kemampuan kreatif agar kerajinan batik bisa berkembang dengan pesat di Yogyakarta.
Salah satu pedagang batik gaul, Furi Umiyati, 24, mengakui, saat ini permintaan batik meningkat. Batik gaul yang dijualnya laku keras setiap harinya.
“Sekarang ini saya bisa menjual batik gaul ini 30 unit setiap harinya. Itu belum yang pesanan. Padahal, sebelumnya hanya laku rata-rata per hari paling banyak 20 potong baju saja,” katanya. yli/taq
Berdasarkan data Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Yogyakarta, peningkatan penjualan batik di Yogyakarta pasca pengkuan UNESCO mencapai 30 persen. Ketua Dekranasda Kota Yogyakarta, Dyah Suminar, mengatakan bahwa pasca pengakuan tersebut,batik semakin diminati oleh banyak kalangan.
“Sekarang ini pasar batik sudah mulai ramai. Tidak hanya masyarakat usia tua yang memakai batik, tetapi juga usia anak dan remaja,” katanya disela-sela pameran batik di Griya UKM Yogyakarta, Jumat (4/12).
Menurutnya, kerajinan batik di Yogyakarta sudah mulai berkembang secara positif. Jumlah pengrajin batik yang mencapai 272 unit sudah mampu mapan dan bisa berproduksi batik secara terus-menerus.
Pengrajin batik di Yogyakarta juga terus berkembang. Tidak hanya kain batik, tetapi juga muncul kerajinan lain seperti sandal batik, sepatu batik, lukisan batik.
“Pengrajin batik kini mendapatkan momentum untuk bisa berkembang pesat setelah mendapat pengakuan sebagai warisan dunia. Produk batik Yogyakarta sudah tersebar di seluruh nusantara, bahkan ke luar negeri,” tambahnya.
Walikota Yogyakarta, Herry Zudianto, menambahkan, sebagai daerah penghasil batik maka industri batik harus terseu dikembangkan secara kreatif. Jangan sampai batik terkesan monoton dan tidak bisa dinikmati oleh semua kalangan.
“Batik di era sekarang harus dikembangkan untuk lebih gaul, agar masyarakat usia anak hingga orang tua bisa menikmatinya untuk dipakai dalam aktivitas sehari-hari,” jelasnya.
Menurutnya, saat ini momentum yang sangat tepat bagi pengrajin batik untuk mengasah dan meningkatkan kemampuan kreatif agar kerajinan batik bisa berkembang dengan pesat di Yogyakarta.
Salah satu pedagang batik gaul, Furi Umiyati, 24, mengakui, saat ini permintaan batik meningkat. Batik gaul yang dijualnya laku keras setiap harinya.
“Sekarang ini saya bisa menjual batik gaul ini 30 unit setiap harinya. Itu belum yang pesanan. Padahal, sebelumnya hanya laku rata-rata per hari paling banyak 20 potong baju saja,” katanya. yli/taq

0 comments:
Post a Comment